Hello semua.
Hari ini aku mau bagiin sesuatu. Jadi seminggu lalu, ada temen yang ternyata lagi butuh translate abstrak skripsi nya. Terus minta tolong ke aku. Karena waktu itu aku lagi sibuk, akhirnya aku cariin tempat translate yang oke. And untuk wilayah Semarang, ternyata ada loh yang pelayanan nya cepat and profesional. Tau sendiri kan, tugas kuliah kadang terlalu banyak dan kita butuh cepet biar bisa selesai sama sama.
Nama nya Kedai Translate. Temen aku bilang, tenaganya profesional dan cepat. Temanku minta hari besoknya jadi, padahal order nya baru satu hari sebelumnya, and mereka bisa kirim hasilnya sebelum jam yang ditentukan. Keren banget deh. So buat kalian yang lagi ada tugas kuliah and butuh ditranslate, langsung aja hubungin disini. Semoga beban kuliah mu cepet selesai ya. hahaha. Semangat!
Labels
- 2012 (1)
- Bahaya Merokok (1)
- Blog Keren (5)
- British English VS American English (1)
- Cerita Cinta (7)
- Cerita persahabatan (4)
- Cerita SMA (3)
- Dream (1)
- Dunia Broadcasting (1)
- Introduction to General Linguistic (1)
- Jaringan Sekretori (1)
- Jesus (1)
- Kamu (2)
- Kesehatan (1)
- kisah cinta (5)
- Kisah Romantis (9)
- Ku Tlah Jatuh Cinta (1)
- Language (1)
- love (3)
- Mantan Pacar (1)
- Pelajaran Kelas XI (2)
- Pelajaran Telinga (1)
- poem (1)
- Poetry (1)
- Romantic (1)
- Royal Family of United Kingdom (1)
- Sahabat (1)
- Say Hi (1)
- Sentences Based Writing (1)
- Telinga (1)
- Terjemahan profesional (1)
- Tips Bebas dari Kepahitan (1)
- Tips Cinta (2)
- Translate (1)
Tampilkan postingan dengan label Blog Keren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog Keren. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Juli 2017
Minggu, 21 April 2013
Younger Than Me (Chapter 3)
Dari dalam
mobil keluar cowok ganteng yang sudah tersirat di benak ku, Trevor! Dia menarik
tanganku dan menggandengku untuk bersembunyi di belakang punggungnya. Sambil
menggandengku dia berteriak, “Hey....!!!!! Jangan ganggu cewek gua ya. Inget!!
Sampai lo gangguin cewek gua lagi. Mati Lo!! PERGI!!”. Para gerombolan cowok
itupun melihat Trevor dengan sedikit takut. Sepertinya mereka memang gerombolan
cowok yang cuman ngomong doang, baru digertak begitu udah kelihatan takut
banget.
“Ampun bang....
Ampun....!!! Iya bang kita pergi....!!!”
Lalu, Trevor
membawaku masuk ke mobil. Dia pun juga masuk ke mobil dan menancap gas mobilnya
dan terlihat sangat marah. Aku nggak tahu harus ngomong apa. Then, tiba-tiba
setelah beberapa meter dia menghentikan mobilnya ke tepi jalan, melihat aku dan
berkata “Aku kan sudah pernah bilang, jalanan sekitar kampus itu bahaya banget.
kamu tahu siapa mereka?” Aku pun hanya menggelengkan kepala, karena aku memang
benar-benar nggak tahu. Dia mengalihkan pandangan nya ke arah depan dan
melanjutkan perkataannya,”Mereka itu adalah sekelompok anak-anak cowok tukang
palak dan tahulah. Cewek kayak kamu itu adalah sasaran empuk mereka. Aku kan
juga pernah bilang, kalau papa nggak bisa jemput, tunggu aku aja. Ntar aku
anterin. Ngerti?”
“Trevor... aku
tu nggak mau nyusahin kamu. Lagipula kenapa aku harus nungguin kamu? Aku nggak
mau bergantung sama kamu ataupun papa. Aku bisa pulang sendiri.”
“Tapi dalam
keadaan begini kamu harusnya tahu dong, udah mau sore, hujan and sepi. Bahaya
banget ngerti nggak???!!! Sekarang lihat, kamu basah kuyup kayak gitu, gimana
kalau kamu sakit, ha?”
Melihat cara
bicara nya seperti itu aku jadi kesal banget. Aku jawab lagi dong “Kamu kok
jadi overprotective gitu sih ma aku.? Udah lah. Aku tu nggak apa-apa kalau
pulang sendiri. Beside aku mau nanya ya sama kamu, kamu bilang “cewek gue???”
We are just friend right??” Well, sebenarnya aku Cuma mau ngetes aja sih. Ya
sedikit meyakinkan hati aku gitu deh. Daripada ngambang nggak jelas.
Kemudian,
suasana hening sejenak dan dengan setengah suara Trevor menjawabku, “Hemmm. Aku
memang salah. Seharusnya sudah dari awal aku menghentikan perasaan ini. Tapi
sorry Stela, aku nggak bisa ngebendung perasaan ku lagi. Selama setahun kita
menjalin pertemanan ini, aku merasa semakin hari aku semakin sayang sama kamu.
Aku nggak tahu kenapa. Sempat aku mencoba untuk menghentikan perasaan ini. Aku
tahu kamu adalah kakak tingkatku. And it seems really weird. Hari ini, Aku
cuman pingin kamu tahu, kalau aku sangat sayang sama kamu. Aku minta maaf udah
merusak persahabatan kita. Dan lupain aja semua yang udah aku ceritain ke kamu
sore ini. Tapi please, janji sama aku untuk nggak bertindak ceroboh kayak tadi.
Jangan lupa bawa jaket walaupun nggak hujan. Dan jangan sungkan untuk ......”
“Ssssssssssssssstttttttttttttttt.....!!!!!”
Aku memegang pundaknya seraya mencoba
untuk membuatnya diam. Kejadian ini berlalu sangat natural. Tiba-tiba
dia mendekatkan bibirnya untuk bisa mendarat di bibirku. Aku hanya diam hendak
memejamkan mataku, Tapi kemudian kami berdua berhenti dan sama-sama berkata,
“Aku suka cara lama!!” Aku nggak pernah menduga kalau kami akan mengucapkan
kata-kata yang sama. Well, Cara lama adalah cara dimana tidak melakukan seks
ataupun kissing sebelum menikah. Kejadian itu memecah kan suasana. Kami berdua
tertawa dan tersenyum. Dia mulai bergerak untuk menyalakan mobilnya, kemudian
menancap gas nya dan mengantarku pulang.
Hari kemarin
adalah hari yang sangat berarti buatku. Dimana Trevor menyatakan perasaannya
yang sesungguhnya. Aku suka banget cara dia mengungkapkan isi hatinya. Terlihat
jujur banget. Hari ini, dia memberitahuku bahwa dia ingin pergi main ke rumah.
Dan nggak cuman main aja, tapi dia juga ingin minta ijin sama orang tuaku. Dia
pingin bilang kalau dia suka sama aku and ingin menjalin suatu keseriusan
denganku.
Waktu
menunjukan pukul 5 sore. Aku sudah berdandan sangat cantik untuk menyambutnya.
Semua persiapan makan malam yang biasa mama dan aku siapkan pun sudah tersedia.
Honestly, aku juga sudah beri tahu ke papa and mama akan maksud kedatangan
Trevor. Mereka pun tersenyum menunjukkan sinyal setuju. Ya....Nggak heran juga
sih, soalnya papa mama udah beberapa kali lihat Trevor. Cuman emang belum kenal
terlalu deket.
Teeeeeeett.....teeeeeeeeeeeeeeeet....
“Permisi.....”
Itu dia suara
yang udah dari tadi aku tunggu-tunggu. Aku segera bergegas ke pintu depan dan
membukakannya pintu. Dengan senyum yang manis dan parasnya yang tampan, dia
menundukkan badannya,memegang dan mencium tanganku lalu menyapaku, “Good
evening My beautiful girl...!”. Senyuman indah yang sengaja ku ukir di wajahku
pun kulemparkan kepadanya lalu berkata, “Good evening my handsome one, please
come in. I have been already missing you.”
Kemudian dia
masuk dan menyapa setiap keluargaku. Papa dan mamaku dengan senyum yang hangat,
menyapanya dan bergegas menyuruh semua orang untuk menuju ke ruang makan.
“Oke, siapa
yang mau pimpin doa makan?” kata papaku.
“Aku.. aku aja
pa...” Kata adikku yang terlihat sangat semangat untuk berdoa.
“Josh pinter
ya. Oke ayo berdoa!” Sahut mamaku.
Kemudian Josh
melanjutkan tugasnya, “Tuhan ... Kami semua mau makan. Berkati makanan kami ya.
Makasih Tuhan, Amin!”
Mendengar cara
berdoanya yang lucu, kami semua pun tertawa lepas dan bergegas untuk makan.
Josh memang anak yang pintar. Meskipun baru berumur 6 tahun, tapi dia sudah
mengerti banyak hal.
“Nama kamu
Trevor ya?” Tanya papaku.
“Iya om...!”
“Kata Stela,
kamu adik tingkatnya dia ya? Kamu kerja apa?” Sahut papaku.
Dengan
tersenyum Trevor menjawab, “Waduh om.. tanyanya banyak banget. Iya, saya adik
tingkatnya Stela. Cuman sebenarnya saya berumur 24 tahun. Saya udah kerja
sebagai Direktur Utama di PT. Excellent Kings. Perusahaan saya bergerak di
bidang arsitektur. Sebelumnya udah dapet gelar juga sebagai arsitek, tapi
pingin nambah gelar eh terus ketemu deh ama Stela.”
“O... begitu,
ya udah makan dulu aja. Ngomong nya ntar aja. Dirasakan tuh, makanan mama enak
nggak?” kata mamaku.
“Mama??? Kok
mama??? Kak Trevor kan bukan anak mama?” sahut Josh.
Sambil membelai
kepala Josh mamaku menjawab, “ahahahaha. Josh sayang, Kak Trevor kan ntar juga
jadi kakak mu. Ntar mama juga akan jadi mamanya kak Trevor.”
Sambil melihat
ke arah Trevor, Josh membalas, “Kok nggak ijin dulu sih sama Josh???”
Mendengar
kata-kata Josh, kami semua tertawa terbahak-bahak.
Kemudian
suasana menjadi hening setelah kata-kata Trevor keluar dari mulutnya, “Maaf,
berarti dengan kata lain, saya sudah diterima di keluarga ini?”
Dengan serius
papa ku menjawab,”Begini Trevor, kami memang sudah mengerti maksud kedatangan
mu. Kami juga sudah mengerti sedikit melalui perkenalanmu tadi. Tapi, kami juga
ingin menanyakan suatu hal. Apakah kamu benar-benar serius dengan Stela? Apa
sudah kamu pikir matang-matang? Kami tidak ingin ada seorang pun menyakiti anak
kami Stela. Kamu pasti juga sudah tahu, bahwa dia pernah disakiti oleh seorang
pria yang tidak bertanggung jawab. Dia juga memiliki sedikit trauma akan itu.
Lagipula, Stela juga masih berumur 19 tahun.”
“Soal itu saya
sudah pikirkan dengan matang om. Om juga bisa memegang janji saya. Selama satu
tahun ini kami menjalin pertemanan, saya sudah sedikit banyak tahu tentang
karakter Stela. Mulai dari kejelekannya, kebaikannya bahkan semua hobby nya pun
saya tahu om. Saya yakin Stela pun juga sudah mengenal saya. Namun, jika
sekiranya Om dan tante menginginkan sebuah bukti akan keseriusan saya, dengan
senang hati saya akan berlaku serius. Jadi dengan kedatangan saya kesini, saya
meminta ijin om dan tante, untuk meminta Stela menjadi pendamping hidup saya.”
Jawab Trevor yang sangat bijaksana.
Kemudian,
suasana hening sejenak dan papaku mulai berbicara lagi, “Oke. Kami lihat kamu
sangat serius. Kami berikan kamu ijin tapi dengan syarat, pernikahan akan
dilaksanakan setelah Stela dan kamu lulus kuliah. Kebahagiaan Stela adalah yang
terutama bagi kami. Jangan pernah menyakiti anak kami.”
“Baik om. Kami
juga tidak terburu-buru untuk menikah. Terimakasih atas ijin Om dan tante. Saya
akan mempertanggungjawabkan kebahagiaan berlian yang sudah Om dan tante
berikan.” Sahut Trevor.
Melihat situasi
yang begitu serius, aku lalu berkata, “ Udah yuk, aku lihat udah pada selesai
makan ya? Habis ini kita nyanyi-nyanyi ya... Josh setuju???”
“Setujuuuuu.......”
Teriak Josh.
Kemudian kami
kembali tertawa terbahak-bahak. Setelah itu aku dan mama membersihkan meja
makan, dan kami semua bergegas pergi ke ruang keluarga untuk benyanyi bersama.
Trevor mengambil posisi piano, papaku mengambil posisi gitar, aku mama dan Josh
sebagai penyanyi nya. Malam itu kami habis kan dengan bernyanyi bersama. Ketika
waktu menunjukkan pukul 9, papaku menghentikan kegiatan kami dan kembali
menanyai Trevor. “
“Trevor, kamu
gag pulang? Kalau keluarga mu nyariin gimana?”
“Nggak papa om.
Keluarga saya ada di Jerman semua. Saya sendiri yang di Indonesia bersama kakak
perempuan saya.” Jawab Trevor.
Kemudian papaku
melanjutkan wejangannya kembali, “Oh begitu! By the way satu lagi, kalian bedua
boleh pergi jalan-jalan, tapi kamu Trevor harus mengembalikan Stela paling
lambat jam 10 malam. Terus apa keluarga kamu sudah tahu soal hal ini?”
“Baik om.
Keluarga saya sudah tahu tentang hal ini. bulan depan mereka akan pulang ke
Indonesia selama satu minggu, begitu mereka di Indonesia, saya akan bawa mereka
kesini.”
“Oke hal ini
jadi semakin jelas” jawab papaku
“Ya sudah saya
pulang dulu, Terimakasih atas semuanya ya om dan tante.”
“Trevor, mulai
sekarang panggil kami papa dan mama ya. and hati-hati di jalan” sahut mama.
“Hahahahaha.
Oke ma...”
Setelah
bersalaman dengan papa dan mamaku, aku mengantarkan Trevor ke mobilnya.
“Begitu sampai
rumah, kabarin aku ya...” Jawabku.
“Oke sayang.
Makasih ya. Keluarga mu keren. Sama kayak keluarga ku. Aku pulang dulu ya.
daaa.... I Love You”
“Love you too”
Jawabku mesra.
Trevor masuk ke
mobil dan menancap gasnya, kemudian dia pergi meninggalkan rumahku.
Sekitar
setengah jam kemudian Trevor mengabari ku bahwa ia sudah berada di kamarnya.
Kemudian dia mengucapkan selamat tidur untukku. Malam itu adalah malam yang
sangat indah. Malam yang takkan pernah aku lupakan. Sejak pertama kali aku
bertemu dengannya, Trevor selalu memberikan moment-moment indah yang tak pernah
aku lupakan. I love him so much.
To be continued.....
Categories
Blog Keren,
Cerita Cinta,
Cerita persahabatan,
kisah cinta,
Kisah Romantis,
love,
Sahabat
Younger Than Me (Chapter 2)
Tiba tiba ada
sesosok pria yang mendarat cukup dekat dengan mukaku. Dengan spontan aku
berteriak “Trevor Anthony.....!!!!!!!! What are you doing??”
Dengan senyuman
nya yang lebar dan manis dia menjawabku, “Aku gag ngapa-ngapain kok. Cuman mau
nyapa kamu aja. hahaha”
Melihat cara
dia tertawa, dengan sinisnya aku menjawab,“Kok kamu ketawa sih... Aku kaget
banget tahu! Udah ah kamu tu ngaco mulu. Aku mau masuk kelas..!”
“Masuk kelas??
Emang udah ada mahasiswa atau dosen sepagi ini ya?” Jawabnya.
“Ya gag ada
sih. Abis kamu ngaco mulu sih. Terus kamu ngapain dateng pagi-pagi begini?”
Dia mendekatkan
wajahnya padaku dan berkata,“Kasi tahu gag ya??”
“Parah emang ya
kamu..!”
“Iya .. iya
deh. Aku emang suka berangkat pagi. No matter what. Kebetulan juga disini ada
piano, ya udah daripada bosen, aku main piano disini.” Jawabnya tegas.
“Terus kenapa
berhenti maen? Maen terus aja. Aku pingin lihat seberapa jago kamu maen piano.”
“Yah
nantangin... Oke... Let’s play...”
Dia mulai
mengarahkan pandangan nya ke arah piano tua itu dan mulai menekan tuts-tuts
piano. Aku mengamati setiap gerak-gerik nya. Sambil memandangi ku, dia mulai
memainkan nada-nada yang sangat indah yang terdengar familiar di telingaku.
Only Hope Switchfoot yang adalah sountrack film A Walk To Remember. Oh My God. Ini kayak mimpi. Sudah lama banget
aku pingin punya seorang kekasih dengan karakter seperti Landon Carter tapi yang
bisa nyanyiin lagu Only Hope buat aku. Dan sekarang lihat, cowok ini sedang
mainin lagu impian ku. Tapi aku sedikit penasaran, gimana dia bisa tahu ya lagu
kesukaanku??
Tanpa sadar aku
mengamatinya tajam, dan sepertinya dia sadar kalau akau terlalu tajam
memandanginya.
“Whooooiiiii!
Kok ngeliatin akunya sampe begitu..! Kamu kenapa???” tanyanya membuyarkan
lamunanku.
“Ah enggak..!
Nggak apa-apa kok. Bagus mainnya. Ayo lanjut lagi!! Aku suka”
“Nggak mau...!”
Jawabnya ketus.
“Loh kenapa??”
Tanyaku penasaran.
“Nggak ada yang
nyanyi sih.” Dia tersenyum.
Kemudian dengan
semangat aku menjawabnya,”Ya udah, aku aja yang nyanyi. Ayo cepetan. Aku lagi
kangen sama lagu ini”.
“Oke. Dari awal
ya. Tapi kamu biasa maen apa?” Tanya nya sambil berfikir.
“Aku di B
minor”
Dia kembali
menghadap ke arah piano. Namun sebelum menekan tuts piano aku
berteriak,””Tunggu....!!”
“Apaan sih
kamu? Ngagetin aja. Ada apa?”
Sambil duduk di
sebelah nya aku bertanya, “Kamu udah tahu kalau aku suka lagu ini ya? Kok tadi
langsung maen instrumen lagu ini?”
Dia menundukkan
kepalanya dan mengangkat kepalanya untuk memperhatikan ku,”Nggak! Nggak salah!”
“Apa?? Berarti
kamu emang udah tahu ya?? Kamu tahu dari siapa? Aku gag pernah woro-woro ke
orang soal itu. kamu nyelidikin aku ya?”
Dia mendekat
kepadaku dan memegang pundakku, “Gag usah parno gitu deh. Kamu ingat gag waktu
kamu gag jadi dijemput papa kamu kemarin?”
“Inget,
terus???” Tanyaku penasaran.
“Kamu ninggalin
satu buku yang isinya semua desire, dreams, and hope yang kamu pingin.”
“Yahhhh. Kamu
udah buka semua dong..! Aduhh. Gimana ni???” Jawabku ketakutan.
“Nyantai aja
kali. Aku gag akan ngomong ke orang lain. Okay!! Tapi kalau aku boleh kasi kamu
advice, Impian-impian kamu itu seharusnya kamu share kan ke orang lain juga,
jadi orang lain bisa tetep keep your spirit untuk terus move on ngewujudin
impian kamu.!”
Aku tertunduk
dan mulai meneteskan air mata. Aku tidak bisa membendung kesedihan yang pernah
aku alami terhadap mantan pacarku yang meninggalkan aku hanya karena semua
mimpiku. Aku ingin membagi mimpiku dengannya, agar dia pun bisa melakukan hal
yag sama. Namun dia berfikir bahwa aku hanyalah seorang pemimpi. Anak manja
yang penuh dengan mimpi. Dia tidak bisa mendukung mimpi-mimpiku karena dia
tidak bisa bermusik. Mantan pacarku nggak punya talenta bermusik. Lalu dia
meninggalkanku. Sekarang dia punya kekasih yang lain dengan badan yang sexy
yang sayang banget nggak punya skill apa-apa.
“Loh... loh...
eh jangan nangis dong Stela. Kamu kenapa? Sorry deh kalau kata-kata ku nyakitin
kamu.”
Dia mengambil
sapu tangan di saku nya dan menghapus air mata dari pipiku. Ketika tangannya
mendarat di pipiku, aku memegang tangannya dan berbisik “Aku udah melakukannya.
Tapi nggak ada yang mau tahu. Bahkan mereka malah ninggalin aku. Sorry Trevor,
aku harus pergi. Thank you ya.” Kemudian aku mulai beranjak dari tempat duduk
ku dan pergi. Belum sampai turun dari panggung auditorium, Trevor berlari
mengejarku, dan meraih punggungku. Ketika aku membalikkan badanku, dia
memelukku dengan erat. Merasakan hangatnya pelukan yang dia berikan, aku
kembali menangis tersedu sedu. Selama beberapa menit aku tenggelam dalam
pelukannya. Kemudian sambil memelukku dia berkata “Kamu bisa cerita ke aku Ste.
Apapun mimpimu. Aku suka dengan orang yang punya mimpi besar. Nggak usah takut.
Aku nggak akan mencibirmu apalagi ninggalin kamu. Aku akan dukung kamu sampai
kamu mencapai semua nya. Asal kamu janji, kamu harus tetep semangat, pantang
menyerah sampai semua mimpi mu jadi nyata.!” Aku merasa, cowok satu ini seperti
sudah mengetahui banyak hal soal aku. Sepertinya memang dia sudah membaca semua
isi buku yang kutulis. Aku tidak hanya menulis impian dan harapanku, tapi juga
tentang mantan pacarku. Apa yang sebenarnya mau Trevor coba lakukan dengan
hidupku. Apakah dia ingin membangkitkan kembali semangat ku yang sudah pudar?
Atau ingin membangkitkan ingatan buruk tentang Brian? Ya, Brian adalah mantan
pacarku. But anyway, aku Nggak peduli. Aku memilih untuk berpikir positif saja.
Aku melepaskan diri dari pelukannya dan memandang nya dengan senyuman, “Thank
you Trevor. Can I have my book again?”
“Sure! Wait for
me!” Dia kembali ke tempat duduk di depan piano dan mengambil tasnya. Dia
berjalan ke arahku untuk mengembalikan bukuku. “Here we go! Ehmm... Ini sapu
tangan ku. Pakai aja untuk ngehapus air matamu.”
“Thank you once
again. Aku kembaliin besok ya.!” Jawabku ramah.
“Anytime...!”
Aku berjalan
pergi keluar dari Auditorium. Kejadian hari itu sedikit mengembalikan semangat
ku yang pernah pudar. Sampai berlalunya hari itu pun aku masih tetap mengingat
setiap detail kejadian nya. Ketika aku menangis, merasakan pelukannya, dan
percakapan yang kami lakukan waktu itu. That was great.
Tidak terasa,
kami pun telah saling mengenal lebih dari satu tahun. Selama waktu itu, kami
menjadi semakin dekat. Setiap pagi kami bertemu di ruang audit untuk bernyanyi
dan bermain musik. Aku nggak tahu juga sih apakah pepatah jawa yang bunyinya
“Tresno jalaran saka kulina” itu bener atau nggak. Sejujurnya aku sudah mulai
merasakan sinyal-sinyal cinta di antara kami berdua. Namun aku tidak
menghiraukannya. Aku masih sedikit takut. Jangan-jangan ini hanyalah perasaanku
saja. Aku nggak tahu apakah dia juga merasakan hal yang sama. Selama setahun
ini aku jadi tahu banyak hal tentang dia. Trevor itu sebenarnya adalah pemilik
perusahaan tenama di Indonesia. Soal kenapa dia bisa jadi lebih muda dari aku,
itu karena dia kepingin dapet gelar tambahan, tapi bidang sebelumnya nggak
berhubungan sama apa yang mau dia ambil. Jadi dia terpaksa ngulang dari
semester 1.
Siang itu aku
terpaksa harus pulang sendirian karena papaku nggak bisa jemput lagi. Dan pada
saat itu musim hujan. Hujan siang itu deras banget. Butiran-butiran hujannya
pun besar-besar. Aku juga nggak bawa payung, jaket pun nggak. Akhirnya pun aku
cuman berdiri di loby kampus sambil memperhatikan hujan. Setengah jam aku
tunggu belum juga reda... Satu jam aku tunggu masih sama. Aku tunggu lagi
sampai setengah jam pun hujan nya tetep aja nggak mau berhenti. Stopppp
Waiting...!! Udah jam setengah 4 sore. Aku harus pulang. Sore itu aku nekat.
Aku berlari menuju ke halte bis di depan kampus. Tapi, ternyata bukan hanya
hujan yang menghalangi ku. Baru aja keluar dari gerbang kampus, tiba-tiba dari
arah belakang ku ada serombongan anak-anak muda. Dan mereka menghadangku. Waduh,
perasaanku sudah sangat nggak enak. Dan...... bener banget!! Awalnya mereka
cuman goda-godain gitu. Aku tetep aja berjalan ke depan tanpa menghiraukan
mereka. Salah satu dari mereka mulai mencoba menyentuh ku dan berkata,”Kok
sombong amat sih cantik..? Ayolah.. pergi sama kita..”
Haduh beneran
deh. Mau teriak kagak ada orang. Dalam hati aku berteriak “GOD....... HELP
ME..... HELP ME.......”. Then suddenly ada mobil Putih yang sepertinya aku
kenal, datang dengan klakson nya yang sangat keras. Kemudian mobil itu berhenti tepat di depan ku
dan segerombolan cowok itu.
To be continued
Kamis, 23 Februari 2012
YOU
You, who I never know yet
Wherever You are
I’ll always pray for you
Even though I never see you this time
My prayer always guide your way
My love will always be Your light
Leading you to see me
Come to me, and found me
Hold me tight and never let me go
Until the day
God bless us under the rainbow
The unbroken rainbow of love
Waiting…..
Yes, I’ll be waiting for you
‘till I know…
That Love is…
YOU!
Tey-tey
Categories
Blog Keren,
Cerita Cinta,
Kamu,
kisah cinta
Minggu, 26 Juni 2011
Langganan:
Postingan (Atom)

